Tantangan dan Peluang Industri Batubara di Indonesia 2009

Pendahuluan


Kondisi harga minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam, tetapi belum jelas kapan berbalik menuju tingkat harga normal yang lebih terjangkau. Yang pasti, sampai saat ini harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. Bahkan mungkin akan menguat lagi, mengingat permintaan akan hasil tambang ini jauh melebihi penawarannya. Tercatat sepanjang tahun 2007, defisit pasokan batubara global sebesar 156,5 juta ton telah memicu lonjakan harga batubara dunia hingga tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir ini, yaitu dari US$ 40 menjadi US$ 120 per ton (untuk referensi beberapa jenis batubara berkalori tinggi) pada pertengahan tahun 2008 lalu. Bahkan tercatat pada perdagangan di bursa New York Mercantile Exchange, Juli 2008 lalu, harga kontrak batubara di pasar Asia menembus rekor tertinggi baru  US$ 137 per ton.
      
Sebagai produsen batubara terbesar ketujuh di dunia, peran Indonesia masih akan meningkat lagi mengingat cadangan yang ada masih menunggu dieksploitasi. Produksi batubara nasional belakangan dalam lima tahun terakhir tumbuh pesat dari 2004 sebesar 132,1 juta ton,  menjadi 216,9 juta ton pada 2007 dan 2008 diduga sudah mencapai 226 juta ton. Dengan demikian, sejak 2006 Indonesia menjadi  eksportir batubara nomor dua terbesar di dunia setelah Australia,  dengan volume ekspor 183,9 juta ton senilai  US$ 6,08 milyar, menyalip China dan Afrika Selatan. Sedangkan tahun 2007 menjadi   sekitar 190 juta ton dengan nilai berkisar  US$ 6,53 milyar. Berarti, harga rata-rata ekspornya mengalami sedikit peningkatan.

Sejalan dengan ekspornya, konsumsi batubara di dalam negeri juga mengalami peningkatan dari tahun 2003 sebesar 30,7 juta ton menjadi sekitar 49 juta pada 2007 dan tahun 2008 sekitar 50 juta ton. Sebagian besar diserap oleh sektor kelistrikan (PLTU) yang tahun 2007 lalu mengkonsumsi sekitar 35,3 juta ton atau sekitar 71,8%  dari total konsumsi nasional batubara, di antaranya oleh PLTU Suralaya sebesar 12,5 juta ton dan PLTU Paiton sekitar 12,6 juta ton. Selebihnya diserap oleh industri semen hingga 7 juta ton, industri pulp dan paper sekitar 1,5 juta ton dan berbagai sektor industri lainya.

Melonjaknya kebutuhan batubara belakangan ini, karena hasil tambang tersebut  telah menjadi sumber energi primer tenaga listrik dunia.  Indonesia pun memacu penggunaan batubara sebagai sumber utama energi listriknya, menggantikan peran BBM yang  cenderung makin mahal (sebelum harganya terkoreksi saat ini). Upaya tersebut di antaranya, pemerintah merencanakan pembangkit listrik bertenaga batubara sebesar 10.000 MW dalam 3 tahun mendatang, Tentunya hal ini akan  membuat melesatnya kebutuhan batubara di dalam negeri. Hingga pada 2010 mendatang, ketika semua proyek PLTU sudah beroperasi, menurut APBI (Asosiasi Perusahaan Batubara Indoensia) konsumsi batubara domestik akan mencapai 90 juta ton, atau akan terjadi kenaikan 40 juta ton dibandingkan dengan kebutuhan saat ini.

Sebaliknya dengan itu, juteru  kondisi pasok batubara di dalam negeri saat ini cenderung berkurang, termasuk ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sehingga  telah menambah beban krisis kelistrikan nasional. Padahal persoalannya, bukan karena masalah domestic market obligation (DMO) atau kewajiban bagi kontraktotr tambang untuk menyediakan sebagian produk tambang bagi kepentingan pemerintah tidak bisa dipenuhi, namun lebih mengenai kesepakatan harga pembelian batubara oleh pemerintah. Selain itu, juga masalah pasokan yang hanya dilakukan oleh beberapa perusahaan, serta kondisi cuaca yang telah membuat macetnya transportasi angkutan laut  batubara. 

Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan batubara di dalam negeri, pemerintah juga memacu pertumbuhan produksi nasional batubara. Setidaknya, pemerintah berupaya mentuntaskan aspek regulasi dengan disahkannya UU Minerba oleh DPR-RI pada pertengahan Desember 2008 lalu. Meski demikian, dalam hal ini diperlukan segera penjabaran implementasinya yang lebih komprehensif dan kondusif menyangkut keterpengaruhan  dengan  sektor terkait lainnya, seperti sektor migas, perpajakan, royalti, iklim politik nasional dan daerah, kondisi pasar modal, geopolitik dan teknologi. Di antaranya, seperti tumpang tindihnya peraturan antara Pusat dan Daerah sebagai dampak berlakunya UU Otonomi Daerah, premanisme dalam Kuasa Pertambangan (KP) yang ada, masalah perpajakan yang tidak konsisten hingga membuat beberapa petinggi perusahaan batubara dicekal. Semua yang menyangkut ketidakpastian hukum di Indonesia ini, dianggap salah satu kendala masuknya investor di sektor pertambangan.

Mengingat sangat besarnya potensi dan peluang bisnis di sektor pertambangan batubara di Indonesai sekaramg ini, PT Media Data Riset (mediadata) telah membuat kajiannya dalam bentuk buku studi setebal 500 halaman lebih. Buku ini sangat berguna bagi pemain, calon investor, industri jasa terkait seperti pemasok alat berat, maupun lembaga pembiayaan. Buku ini kami tawarkan dengan harga Rp 5.000.000 (Lima Juta Rupiah) per copy untuk versi Bahasa Indonesia dan US$ 750 (Tujuh Ratus Lima Puluh Dollar) untuk versi Bahasa Inggris dengan nilai tukar dapat dinegosiasikan. Untuk pemesanan dan informasi lebih lanjut mengenai laporan ini, dapat langsung menghubungi PT Media Data Riset telepon nomor (021) 809.6071, 809.3140, faximile (021) 809.6071 dan ‘mobile phone’ : 0852 1706 1945, dengan mengisi formulir pemesanan.


Daftar Isi


I.     PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang    
1.2.    Cakupan dan Tujuan Studi
1.3.    Sumber Data dan Informasi

II.     KONDISI SUMBER ENERGI NASIONAL
2.1.      Gambaran Umum Energi Indonesia
2.1.1.     Sumber energi primer pembangkit listrik
2.1.2.     Diversifikasi Energi  
2.1.3.     Cadangan dan produksi energi fosil,  2008   
2.1.4.     Cekungan hidrokarbon Indonesia
2.1.5.     Sumber daya dan kapasitas terpasang energi non fosil, 2008
2.2.     Potensi Sumber Daya Energi   
2.2.1.      Pemanfaatan Sumber Energi Untuk Pembangkit Tenaga Listrik
2.2.2.      Potensi Sumber Energi di Provinsi
2.3.      Crash program dan batubara   
2.4.     Pelaksanaan proyek terpadu PLT
2.5.     Kebutuhan pasokan batubara,  2008-2011

III.     KEY ISSUES DI BISNIS BATUBARA
3.1.     Kondisi Batubara
3.1.1.      Minat investasi rendah   
3.1.2.      Stok Batu bara kritis
3.1.3.      Produksi Batubara Melaju Pesat
3.1.4.      Kondisi pasar batubara Indonesia
3.1.5.    Domestic Market Obligation (DMO)   
3.2.     Potensi pemanfaatan batubara
3.2.1.      Pencairan batubara (Coal Liquefaction)
3.2.2.      Pabrik pencairan batubara berau coal   
3.2.3.      PT Bukit Asam
3.2.4.    Peningkatan kualitas batubara (Upgrade Brown Coal/UBC)
3.2.5.     Pilot Project Brown Coal Liquefaction (BCL)
3.2.6.     Gas Methane Batubara (Coal Bed Methane)
3.2.7.     Gasifikasi Batubara
3.2.8.     Kokas (Coking Coal)

IV.     SUMBER DAYA DAN KUALITAS BATUBARA DI INDONESIA   
4.1.     Sumber Daya Batubara Indonesia
4.1.1.     Cadangan data terpecah
4.1.2.     Cadangan batubara Indonesia
4.2.     Cadangan Batubara Indonesia 110 tahun
4.3.     Deposit Batubara Terbesar
4.4.      Pertambangan Menurut Status Perusahaan   
4.5.      Pertambangan Batubara di Kalimantan
4.6.    Kesesuaian Lokasi atau Lahan   
4.7.      Penanganan Dampak Lingkungan
4.8.      Proses Produksi
4.9.    Manajemen Operasional

V.      KEBIJAKAN DAN POLA PENGEMBANGAN  BATUBARA DI INDONESIA       
5.1.     Kebijakan Batubara Nasional
5.1.1.     Permasalahan utama    
5.1.2.     Instrumen kebijakan 
5.1.3.     Patokan capaian Kinerja Pengusahaan Batubara
5.1.4.     Pola investasi pertambangan batubara Pemerintah (RPP/2009)
5.2.     Kontrak Batubara Dari Masa ke Masa
5.2.1.     Kontrak kerjasama batubara generasi  I  (1981-1993)
5.2.2.     Kontrak kerjasama batubara generasi  II  (1993-1996)
5.2.3.     Kontrak kerjasama batubara generasi  III (1996-2004)
5.3.     Persyaratan dan Tahapan Penambangan Batubara    
5.3.1.    Tahap penyelidikan (Survey) Umum   
5.3.2.     Tahap eksplorasi
5.3.3.     Tahap studi kelayakan    
5.3.4.    Tahap konstruksi
5.3.5.     Tahap kegiatan produksi
5.4.      Ketentuan–Ketentuan Utama Pada PKP2B    
5.4.1.     Ketentuan Hukum & Teknik
5.4.2.     Peraturan Keuangan Dan Pajak
5.4.3.    Ketentuan Lainnya
5.5.     Kondisi Industri Pertambangan Batubara
5.6.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengusahaan Batubara
5.7.     Pengelolaan Sumber Daya Mineral & Batubara Dalam Era Otonomi   
5.8.     Permasalahan Pengembangan Pertambangan Batubara
5.9.     Upaya Pemerintah dalam Mendorong Investasi di Bidang Pertambangan
   
VI.     PERUSAHAAN PENAMBANGAN BATUBARA DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI   
6.1.     Perusahaan Penambangan Batubara di Indonesia   
6.1.1.     Perusahaan Penambangan Batubara PKP2B dan Kuasa Penambangan   
6.1.2.  Perusahaan batubara terbesar
6.2.    Perusahaan Kontrak Karya Penambangan Batubara (PKP2B)
6.2.1.      PKP2B Generasi I
6.2.2.      Perusahaan PKP2B Generasi II
6.2.3.     Perusahaan PKP2B Generasi III
6.2.4.      Propinsi Kalimantan Timur memiliki konsesi terluas
6.3.    Perkembangan Produksi Batubara Indonesia
6.3.1.     Produksi batubara menurut pengusahaannya
6.3.2.     Produksi batubara menurut perusahaan

VII.      BRIKET  BATUBARA   
7.1.      Deskripsi produk   
7.1.1.      Persyaratan    
7.1.2.      Teknologi pembuatan briket
7.1.3.    Pemasokan Briket Batubara  (Supply Side)   
7.1.4.    Produsen Briket Batubara Swasta
7.1.5.      Permintaan Briket Batubara (Demand Side)
7.1.6.      Harga briket batubara
7.2.   Perkembangan ekspor briket
7.2.1.      Ekspor 2007 hanya raih devisa US$ 9,98 juta
7.2.2.      Konsumsi    
7.3.      Prospek 
VIII.    PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR
8.1.    Perkembangan Ekspor Batubara Indonesia    
8.1.1.    Ekspor batubara menurut volume, nilai dan jenisnya
8.1.2.    Ekspor batubara menurut negara tujuan
8.1.3.    Ekspor batubara menurut perusahaannya
8.1.4.    Pemerintah akan terapkan pembatasan ekspor ?
8.2.    Perkembangan Impor Batubara Indonesia    
8.2.1. Impor batubara menurut volume, nilai dan jenisnya
8.2.2.     Impor Batubara Menurut Negara Asal
8.3.  Perkembangan Batubara Dunia
8.3.1.    Perkembangan produksi batubara dunia
8.3.2.    Negara eksportir batubara utama dunia
8.3.3.    Negara importir batubara utama dunia
8.3.4.     Konsumsi batubara dunia dan estimasi agregat regional   
8.3.5. Perkembangan harga batubara dunia

IX.     PASAR BATUBARA INDONESIA
9.1.     Perkembangan Penjualan Batubara Dalam Negeri   
9.2.      Penjualan di Dalam Negeri Menurut Produsen
9.3.      Harga Batubara Indonesia bisa bertahan US$ 70 per ton   

X.     KONSUMSI  BATUBARA DI DALAM NEGERI
10.1.    Perkembangan Konsumsi Batubara Indonesia
10.1.1.    Konsumsi batubara dalam negeri
10.1.2.    Konsumsi batubara dalam negeri menurut pemakainya
10.2.     Rencana Proyek PLTU Batubara di Indonesia
10.3.     Proyeksi Kebutuhan Batubara Domestik  Hingga, 2025       

XI.     TRANSPORTASI DAN INFRASTRUKTUR BATUBARA   
11.1.     Gambaran Umum
11.2.     Jenis Transportasi Batubara   
11.2.1.     Angkutan kereta api   
11.3.  Angkutan Laut Batubara
11.3.1.     Hadapi azas cabotage indonesia butuh 390 unit kapal     
11.3.2.     Pmberian ijin kapal asing bermasalah 
11.3.3.     Cosco group garap angkutan batubara Indoensia   
11.3.4.  Arpeni cari Rp 7 triliun untuk belanja modal.   
11.3.5.     Utamakan ekspor rugikan kapal domestik   
11.4.      Terminal  batubara
11.5.      Biaya angkut
11.5.1.     Biaya transhipment di Kalimantan   
11.6. Mengatasi Kendala Transportasi dan Infrastruktur Batubara
11.6.1.     Infrastruktur transportasi batubara   
11.7.  Rencana Pembangunan Jalan Kereta Api Di Luar Jawa
11.7.1.    Strategi pengembangan sistem kereta api di indonesia   
11.7.2.    Program pengembangan sistem jalur kereta api di Sumatera   
11.7.3.    Proyek pembangunan terminal batubara tanjung api-api   
11.7.4.     Departemen perhubungan kaji swastanisasi angkutan kereta api batubara
11.7.5.  Transportasi pertambangan batubara Kalimantan

XII.    OPERASIONAL  PENAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA   
12.1.      Metoda Penambangan Batubara
12.2.      Proses Penambangan Batubara Sampai Pengangkutannya   
12.2.1.    Operasional penambangan meliputi
    12.2.2.    Diagram proses pertambangan batubara   
12.3.    Peralatan Yang Dibutuhkan
12.4.    Operational Penambangan Batubara
12.5.      Peran Kontraktor Penambangan Batubara
12.5.1.      PT Pama Persada Nusantara
12.5.2.      PT Thiess Contractors Indonesia   
12.5.3.    Proyek PT  Arutmin, Kalimantan Selatan   
12.5.4.     Proyek PT  Kideco Jaya Agung, Kalimantan Timur
12.5.5.   PT BUMA   
12.6.      Biaya Penambangan Batubara   
12.7.      Kondisi Alat Berat Sebagai Industri Pendukung    
12.7.1.      Dukungan Alat Berat Indonesia
12.7.2.      Pola Pikir
12.7.3.      Kategori Daya Saing Produk Alat Berat
12.7.4.     Daya saing produk alat berat
12.7.5.     Kebutuhan Alat Berat Berdasarkan Sektor Industri
12.7.6.      Potensi pembelanjaan alat berat di sektor konstruksi
12.7.7.      Produksi berdasarkan jenis alat berat
12.7.8.      Jenis alat berat produksi dalam negeri
12.7.9.      Produksi, investasi dan tenaga kerja pada industri alat berat
12.7.10. Produk Range Hinabi
12.8.      Kerangka Pengembangan Alat Berat
12.9.     Analisa SWOT Industri Alat Berat
12.10. Peluang   
12.10.1.  Estimasi Produksi dan Proyeksi Demand Alat Berat di Indonesia   
12.11. Strategi
12.11.1.     Strategi industri untuk pengembangan alat berat
12.11.2.      Strategi pemerintah untuk pengembangan alat berat
12.12.  Permasalahan dan Solusinya
12.12.1.      Pasar (Demand Pull)
12.12.2.      Kemampuan industri
12.13.  Produsen Alat Berat Indonesia dan Asia
   
XIII.     PERAN PERBANKAN DALAM USAHA PERTAMBANGAN BATUBARA   
13.1.      Latar Belakang Perbankan Dukung Industri Batubara
13.1.1.      Executive summary   
13.1.2.     Keunggulan pemilihan industri batubara   
13.1.3.      Faktor dukungan degulasi
13.1.4.      Blue Print Energi Energi Mix Nasional tahun 2025
13.2.      Potensi Industri Batubara
13.2.1.      Program aksi   
13.2.2.      Kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik
13.2.3.      Biaya pembangkit batubara sangat efisien   
13.3.      Produksi Listrik Berdasarkan Bahan Bakar   
13.3.1.  Biaya pembangkit listrik PLN
13.4.      Peran Bank Mandiri dalam Industri Batubara
13.4.1.     Potensi Pembiayaan Industri Batubara
13.4.2.      Fasilitas yang diberikan Bank Mandiri
13.4.3.    Permasalahan perbankan dalam menghadapi pembiayaan disektor batubara
13.4.4.    Kontak Bank Mandiri untuk pembiayaan pertambangan batubara

XIV.      PROSPEK PERTAMBANGAN BATUBARA INDONESIA   
14.1.      Kesimpulan dan Prospek 
14.1.1.     Pemanfaatan batubara Indonesia   
14.1.2.     Proyeksi kebutuhan batubara domestik   
14.1.3.     Penyelesaian PLTU batubara akan meningkatkan kebutuhan batubara   
14.1.4.     Produksi Batubara Mencapai 366,9 Juta Ton di Tahun 2015
14.1.5.    Expor tetap memainkan peran penting
14.1.6.  Peluang investasi
14.2.    Proyeksi Permintaan Batubara Nasional.   

LAMPIRAN :
1.    Kualitas Batubara Menurut Perusahaan Yang Beroperasi di Indonesia    
2.    Undang-Undang  Republik Indonesia  Nomor : 4  Tahun  2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara   
3.    Singkatan dan Takarir   

DIREKTORI  PERTAMBANGAN