Multi Client Studies
MCS Indonesia Edition List All
Privatisasi dan Restrukturisasi 18 Besar BUMN Menuju Go Publik | Privatisasi dan Restrukturisasi 18 Besar BUMN Menuju Go Publik |
|
FOREWORDKementerian Negara BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menargetkan dari jumlah BUMN yang merugi pada 2009 sebanyak 20 perusahaan, akan berkurang separuhnya menjadi 10 perusahaan pada 2010 ini. Caranya, antara lain dengan melakukan rightsizing, merger, hingga penyuntikan modal. Dalam hal ini, pemerintah sendiri tidak akan menyediakan modal, melainkan bisa disuntik oleh antar BUMN. Saat ini, perusahaan yang diberikan tugas menyediakan modal untuk BUMN adalah PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), di antaranya diberi mandat untuk menyehatkan BUMN yang mengalami masalah keuangan, seperti PT PAL dan Balai Pustaka. Selanjutnya ke depan, PPA juga diminta untuk memperkuat struktur keuangan BUMN di industri strategis, antara lain PT Pindad. Upaya profitisasi BUMN melalui restrukturisasi ini, diharapkan bisa memberikan konstribusi dividen bagi negara, pajak, penyerapan tenaga kerja, mitra peningkatan usaha kecil & menengah serta koperasi. Sedangkan privatisasi berupa penjualan saham melalui Pasar Modal atau penjualan kepada manajemen BUMN tertentu, tujuan utamanya dalam rangka pemerataan pemilikan saham oleh masyarakat. Restrukturisasi dan privatisasi BUMN ini dilaksanakan sesuai UU BUMN dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Metodanya, melalui penjualan saham berdasarkan IPO dan penjualan saham langsung kepada investor strategis/strategic sale (SS). Baik metode privatisasi maupun jumlah saham yang akan dilepas, dalam hal ini Meneg BUMN telah menerbitkan surat No. S-717/MBU/2008 tanggal 4 September 2008. Untuk itu sejak 2008, DPR RI telah diminta untuk menjadwalkan rencana privatisasi beberapa BUMN yang termasuk dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2008. Realisasinya pada 2010 ini PT Garuda Indonesia akan melakukan privatisasi setelah sebelumnya merestrukturisasi managementnya untuk go public. Selanjutnya, PT Krakatau Steel, PT Pembangunan Perumahan (PT PP) dan PT Latinusa juga akan masuk di pasar bursa tahun ini. Dengan value creation BUMN ini, Kementerian Negara BUMN mendesak manajemen semua perusahaan negara untuk meningkatkan kinerjanya guna mencapai profitalitas yang diinginkan. PT Pertamina misalnya, diharapkan tahun ini mampu menyetorkan dividen kepada negara sedikitnya Rp20 triliun. Padahal sebelumnya, sederet perusahaan BUMN lainnya, termasuk sektor perbankan, telah mampu membukukan kinerja keuangan yang fantastis. Pada tahun 2009 lalu Pemerintah mendapat dividen sebesar Rp28,62 triliun, dengan penyumbang terbesar adalah PT Pertamina Rp13,08 triliun. Kontributor dividen lainnya PT PLN Rp7 triliun, PT PGN (Rp242,4 miliar), PT Telkom (Rp524,19 miliar), dan PT Semen Gresik (Rp215,1 miliar). Sementara tiga BUMN bank menyumbang sebesar Rp700 miliar, masing-masing Bank Mandiri (Rp403,7 miliar), Bank Negara Indonesia (Rp144,3 miliar) dan Bank Rakyat Indonesia (Rp30,2 miliar). Sedang BTN tidak diambil dividennya, karena bank tersebut sedang fokus pada kredit pembiayaan perumahan dan mengelar IPO. Seluruh deviden BUMN tersebut akan menjadi pertimbangan penyusunan APBN 2010. Untuk tahun ini, Kementerian BUMN menargetkan setoran dividen BUMN sebesar Rp30 triliun naik sekitar 4,9% dari tahun sebelumnya sebesar Rp28,6 triliun. Kenaikan itu, diharapkan didorong oleh perbaikan kinerja BUMN dengan memasukan unsur penghematan, efisiensi dan menekan ongkos operasional tanpa mengganggu belanja modal. Upaya pengelolaan BUMN efektif ini, sebagai pembanding yang patut ditiru di antaranya Temasek, Holding BUMN Singapura ini mendunia karena strategi bisnisnya yang sangat agresif. Sementara, Khasanah Berhad, holding BUMN Malaysia, juga agresif dalam melakukan pembenahan strategi bisnis globalnya, termasuk ekspansi ke Indonesia. Belakangan ini BUMN China, juga sangat aktratif dalam strategi ekspansi globalnya. Indonesia bukan tidak berpeluang BUMN-nya bisa ekspansi bisnisnya ke mancanegara, karena sudah cukup memiliki banyak sumber daya manusia (SDM) terlatih baik dalam hardskill maupun softskill. Kini, yang dibutuhkan adalah political will, sekaligus komitmen kuat pemerintah untuk menetapkan visi strateginya. BUMN sebagai pilar penting dalam perekonomian sekaligus sebagai alat ekspansi global, di antaranya jangan dipolitisasi dalam penempatan SDM di jajaran manejemennya. Mengingat sangat besarnya potensi dan peluang BUMN masuk ke percaturan bisnis global, PT Media Data Riset telah menyusun kajian dalam bentuk buku setebal 500 halaman. Buku laporan ini sangat berguna bagi pemain di dalam dan luar negeri, calon investor, industri jasa terkait seperti perbankan, lembaga keuangan, industri pertambangan, industri pupuk, industri semen, dan industri strategis lainnya. Buku ini kami tawarkan dengan harga Rp5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) per copy untuk versi bahasa Indonesia dan US$750,- (Tujuh Ratus Lima Puluh US Dolar) untuk versi Bahasa Inggris. Untuk pemesanan dan informasi, dapat langsung menghubungi PT Media Data Riset melalui email This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it / This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it atau telepon (021) 8093140, 8096071 atau faksimile (021) 8096071, dengan mengisi formulir pemesanan. Pemesanan untuk luar Jakarta atau luar negeri akan ditamba biaya kirim. Silakan kunjungi website kami di www.mediadata.co.id untuk keterangan lebih lanjut. Demikian penawaran ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Jakarta, Januari 2010 PT Media Data Riset Mansur S Marketing Manager DAFTAR ISI1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Ruang Lingkup 1.3. Sumber Data 2. PERANAN BUMN DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL 2.1. Latar Belakang 2.2. Peran BUMN 2.3. Mewirausahakan BUMN 2.4. Penciutan sulit direalisasikan 2.5. Penjualan Melalui Pasar Modal 2.5.1. Penjualan Saham Langsung/Strategic Sale 2.5.2. Kriteria lain 2.6. Rightsizing BUMN 2.7. Pemetaan Eksternalitas 2.8. Pemetaan Urgensi Kepemilikan 2.9. Benahi BUMN Rugi 3. PRIVATISASI DAN RESTRUKTURISASI BUMN 3.1. Privatisasi 3.2. Metode Privatisasi 3.2.1. BUMN tidak dapat diprivatisasi 3.2.2. BUMN dapat diprivatisasi 3.3. Manfaat Privatisasi 3.3.1. Bagi BUMN 3.3.2. Bagi Negara 3.3.3. Bagi Masyarakat 3.4. Rencana Privatisasi BUMN 3.4.1. PT Semen Baturaja 3.5. PT Virama Karya 3.6. PT Yodya Karya 3.7. PT Semen Kupang 3.8. Restrukturisasi 3.8.1. Restrukturisasi sektoral 3.8.2. Restrukturisasi korporasi. 3.9. Restrukturisasi BUMN 3.9.1. PT PAL 3.10. PT PERTAMINA 3.10.1. Direstrukturisasi 3.10.2. Inefisiensi 3.10.3. Terbitkan obligasi US$1 miliar 3.10.4. Jadi US$1,5 miliar 3.10.5. Divestasi Patra Jasa 3.10.6. Berubah total 3.10.7. Siap kelola PSC 3.10.8. Kuasai saham FSRU Jakarta 3.10.9. Seret TPPI ke Abitrase 3.10.10. Kinerja produksi 3.10.11. Kinerja keuangan 3.10.12. Laba Bersih Morosot Tajam 3.10.13. Insentif fiskal 3.10.14. Program konversi 3.11. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) 3.11.1. Kelistrikan Masuk Prioritas 3.11.2. Butuh Rp30 Triliun 3.11.3. Tawarkan obligasi 3.11.4. Proyek 10.000 MW Tahap II Berpotensi Molor 3.11.5. ADB kaji pinjaman US$980 juta 3.11.6. Kinerja PLN Dievaluasi 3.11.7. Manajemen dirombak 3.11.8. Paling boros 3.11.9. Kegiatan usaha 3.11.10. Sistem penarifan 3.11.11. Tinjau ulang Listrik – Malaysia 3.11.12. Prospek usaha 3.12. PT Pupuk Kalimantan Timur 3.12.1. Terbikan obligasi Rp1,3 triliun 3.12.2. Kinerja positif 3.12.3. Proyek Kaltim V terkatung-katung 3.13. PT Hotel Indonesia (Inna group) 3.13.1. Restrukturisasi hotel 3.13.2. Pasar khusus 3.14. PT Djakarta Lloyd 3.15. PT Semen Kupang 3.16. PT Kertas Kraft Aceh 3.17. PT Industri Gelas (Iglas) 3.17.1. Sejarah singkat 3.17.2. Progres 3.18. PT Waskita Karya 3.18.1. Tunggu PP 4. IPO DAN OBLIGASI BUMN DI PASAR MODAL 4.1. IPO Lebih Menarik 4.2. PT PELAT TIMAH NUSANTARA Tbk 4.2.1. Lepas 504 juta saham 4.2.2. Rp325 per saham 4.2.3. Tercatat di BEI 4.2.4. Cari pinjaman US$60 juta 4.2.5. Proses produksi 4.2.6. Kinerja Keuangan 4.2.7. Posisi pasar 4.2.8. Daya beli 4.3. PtT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk 4.3.1. Riwayat singkat 4.3.2. Metode IPO 4.3.3. Sekuritisasi Aset Rp500 Miliar 4.3.4. Cari Dana IPO Rp2,5 triliun 4.3.5. KPR Jadi Andalan 4.3.6. Aset Rp49 triliun 4.3.7. Ekuitas naik 47,1% 4.3.8. Saham masih diburu 4.4. Masuk Pasar Modal 4.4.1. PT Pembangunan Perumahan (PP) 4.4.2. PT Krakatau Steel (KS) 4.4.3. PT Garuda Indonesia 4.4.4. PT Perkebunan Nusantara II 4.4.5. PT Perkebunan Nusantara III 4.4.6. PT Perkebunan Nusantara VII 4.5. Pada 2011, Transaksi Bursa Otomatis 5. MANAJEMEN DAN KINERJA 14 BUMN TERBUKA 5.1. Bank BUMN penopang utama kredit 2010 5.2. Tiga Bank BUMN kucurkan kredit Tol Rp4,6 triliun 5.3. Rekening bersama 5.4. Aset 10 Bank terbesar 5.4.1. Bank BUMN 5.5. PT Bank Mandiri Tbk 5.5.1. Raih Kredit US$105 Juta 5.5.2. Cetak laba Rp6 triliun 5.5.3. Permintaan subdebt capai Rp3,8 triliun 5.5.4. Manfaat Subdebt 5.5.6. Saham di Garuda 5.5.7. Cari pinjaman lagi US$400 Juta 5.6. PT Bank Negara Indonesia Tbk 5.6.1. Bidik Kredit Tumbuh 18% 5.6.2. Siapkan kredit listrik Rp2,2 triliun 5.6.3. Perluas Jaringan ke Afrika 5.6.4. Jajaki opsi right issue 5.7. PT Bank Rakyat Idonesia, Tbk 5.7.1. Patok Kupon Obligasi 9,75% - 11,80% 5.7.2. Siapkan Rp1 triliun untuk akuisisi 5.7.3. Laba Rp3,49 triliun 5.7.4. Siap Ekspansi Kredit 5.8. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 5.8.1. Telkom dan B’TEL Naikkan Kapasitas 5.8.2. Garap proyek Serat Optik Mataram-Kupang 5.8.3. Cari Kredit Rp950 Miliar 5.8.4. Laba positif 5.8.5. Empat Sekuritas Potensi Jadi Underwriter bond 5.8.6. Pangsa pasar 5.8.7. Dapat fasilitas pajak 5.9. PT Perusahaan Gas Negara Tbk 5.9.1. Lunasi Obligasi US$275 Juta 5.9.2. LNG Receiving 5.9.3. Capex 2010 US$200 juta 5.9.4. Kontrak gas diteken 5.10. BUMN tambang nonmigas ditargetkan Rp4,94 triliun 5.11. PT ANEKA TAMBANG Tbk 5.11.1. Mencari mitra bisnis 5.11.2. Genjot produksi 5.11.3. Terus membidik Target Akuisisi 5.11.4. Digandeng Norsk Hydro Bangun Pabrik Smelter 5.11.5. Laba Bersih Anjlok 82% 5.12. PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk 5.12.1. Sejarah singkat 5.12.2. Pendapatan Tumbuh 20% 5.12.3. Laba bersih naik 50% 5.12.4. Siap akuisisi 5.12.5. Gagal 5.12.6. Masuki Bisnis CBM 5.12.7. Incar pendapatan Rp9 triliun 5.12.8. Capex capai Rp4 triliun 5.13. PT Timah Tbk 5.13.1. Serap 90% Capex 5.13.2. Harga Anjlok 5.13.3. Pendapatan turun 17% 5.13.4. Pemasok terbesar 5.13.5. Ekspansi ke Batu bara 5.14. PT Semen Gresik Tbk 5.14.1. Bangun Pabrik di Papua 5.14.2. Dorong Produksi 5.14.3. Bidik Laba Rp3,28 Triliun 5.14.4. Raih Untung Rp216 Milliar 5.14.5. Lepas anak usaha 5.15. PT WIJAYA KARYA Tbk 5.15.1. Sejarah singkat 5.15.2. Proyek konstruksi capai Rp90 triliun 5.15.3. Incar proyek senilai Rp285 Miliar 5.15.4. Capai target 5.16. PT Adhi Karya Tbk 5.16.1. Dapat Proyek Rp100 Miliar 5.16.2. Bidik kontrak Rp9 triliun 5.17. Holding Bumn Farmasi 5.17.1. PT Indofarma, Tbk 5.18. PT Kimia Farma Tbk 5.18.1. Minta deviden 0% 5.19. PT Jasa Marga Tbk 5.19.1. Alokasikan Capex Rp3,1 Triliun 5.19.2. Raih Kredit Rp4,2 triliun 5.19.3. Laba Naik 33% 5.20. Setoran dividen BUMN 5.20.1. Pemerintah targetkan dividen Rp30 triliun 5.20.2. BUMN perbankan 5.20.3. BUMN lainnya 6. OVERVIEW KINERJA BUMN 6.1. Jumlah BUMN 6.2. Alokasi Ekspor Pupuk Ditetapkan Awal 2010 6.2.1. PT Pupuk Sriwidjaja 6.2.2. PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) 6.2.3. PT Petrokimia Gresik 6.3. Revitalisasi Industri Alutsista 6.3.1. Anggaran minim 6.3.2. PT Dirgantara Indonesia 6.3.3. PT Pindad 6.3.4. PT Dahana 6.3.5. PT Batan 6.4. PT Surveyor Indonesia 6.4.1. Tangani verifivikasi kaca lembaran 6.5. PT Sucofindo 6.5.1. Lima strategi dalam lima tahun 6.6. PT Survey Udara Penas 6.6.1. Sekilas Sejarah 6.6.2. Kinerja meredup 6.7. PT Rekayasa Industri 6.7.1. Raih kontrak Rp4,2 triliun 6.8. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) 6.8.1. Jumlah penumpang meningkat 6.9 PT Indonesia Ferry 6.9.1. Laba melonjak 6.9.2. Potensi kebocoran 6.10. PT Merpati Nusantara 6.10.1. Ingin Ambil Alih Saham Garuda 4,21% 6.10.2. Tanggapan Garuda 6.11. PT Biofarma 6.11.1. Bangun Pabrik Vaksin Flu 6.11.2. Ekspor dongkrak laba bersih 6.11.3. Diakui WHO 6.12. PERUM PEGADAIAN 6.12.1. Monopoli Segera Berakhir 6.12.2. Payung hukum 6.12.3. Siapkan obligasi Rp2 triliun 6.13. Konversi Deposito Ke Bank Mandiri 6.13.1. PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) 6.14. PT Jasa Raharja 6.15. PT Asuransi Kesehatan Indonesia 6.15.1. Sejarah Singkat 6.15.2. Bea siswa Askes 6.16. PT Asuransi Ekspor Indonesia 6.17. PT Asuransi Jasa Indonesia 6.17.1. Kaji akuisisi asuransi jiwa 6.17.2. IPO 2011 6.17.3. Bayar Klaim Pesawat DHC 6-300 Twin Otter PK-NVC 6.18. PT Asuransi Jiwasraya 6.19. PT Kawasan Industri Medan 6.20. PT Industri Kereta Api (INKA) 6.20.1. Banjir Order dari Mancanegara 6.21. PT Kliring Berjangka Indonesia 6.21.1. Mengembangkan Resi Gudang 6.21.2. Kenalkan pasar fisik kayu 6.21.3. Bank diminta hedging resi gudang 6.22. PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) 6.22.1. Gelar Tender Konsultan Texmaco 6.22.2. Jajaki emisi obligasi 6.22.3. Kucurkan pinjaman 6.23. PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) 6.23.1. Targetkan Pembiayaan Kapal Rp1,6 Triliun 6.23.2. Sumber pembiayaan 6.24. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I 6.24.1. Jalin Kerjasama 11 Mitra Strategis 6.24.2. Tiga proyek besar 6.24.3. Siap Operasi Nonstop 6.25. PT Pelindo II 6.25.1. Tolak Hapus THC 6.25.2. Investasi terserap 51% 6.26. PT Pelindo III 6.26.1. 2010 pendapatan Rp1,04 triliun 6.27. PT Kereta Api 6.27.1. Tarif KA ekonomi diusulkan naik 50% 6.27.2. Diarahkan Fokus Kelola Prasarana 6.27.3. Pembangunan dipercepat 6.27.4. Anggaran pengembangan KA Rp50 triliun 6.27.5. Rangkaian baru 6.28. Perum Badan Urusan Logistik (BULOG) 6.28.1. Tangani Komoditas Nonberas 2010 6.28.2. Tak maksimal pasarkan gula 6.29. PT Pos Indonesia 6.29.1. Bersaing tanpa hak istimewa 6.29.2. Optimis Capai Target 6.30. Revitalisasi Pabrik Gula Rp 7 Triliun 6.30.1. PTPN dan RNI gelar tender bersama 6.30.2. PT Perkebunan Nusantara VIII 6.30.3. PT Perkebunan Nusantara X 6.31. PT Sarinah (Persero) 6.32. PT Len Industri 6.32.1. Raih penghargaan 6.32.2. Dibangun di Bandung 6.33. PT Angkasa Pura I 6.33.1. Didesak benahi bandar udara 6.34. PT Angkasa Pura II 6.34.1 Raup laba Rp900 miliar 6.34.2. Belanja Modal 6.35. PT Biro Klasifikasi Indonesia 6.35.1. Operator enggan klasifikasikan kapal 6.35.2. Belum terdaftar 6.36. Perum Perumnas 6.36.1. Kupon MTN 19% 6.36.2. Land bank 7. KEBIJAKAN-KEBIJAKAN STRATEGIS 7.1. Masalah-masalah Strategis BUMN 7.2. Model Implementasi Rightsizing Policy 7.2.1. Kebijakan stand alone 7.2.2. Kebijakan merger/Konsolidasi 7.2.3. Kebijakan pembentukan holding 8. PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA BUMN 8.1. Pengertian Corporate Governanca 8.2. Prinsip-prinsip GCG 8.3. Tujuan dan penerapan GCG pada BUMN 8.4. Manfaat penerapan GCG 8.5. Langkah-langkah untuk mendorong penerapan GCG di BUMN 8.6. Kendala dan prospek 9. PROFIL PERUSAHAAN BUMN |
| < Prev | Next > |
|---|
|
||||||||||||||||||||||||||||||
| Home |
| Corporate |
| Contact Us |
| Search |
| Our Partner |
| Multi Client Studies |
| Single Client Study |
| Consulting |
| Advertising Services |
| Regulation and Project Profile |
Chat with us |







![]() | Today | 126 |
![]() | Yesterday | 299 |
![]() | This week | 1683 |
![]() | This month | 3264 |
![]() | All | 260272 |