Sejak tahun 1995, produksi gula Indonesia terus melorot dari 2 juta ton menjadi hanya 1,4 juta ton pada tahun 2000 sehingga bisnis ini sempat tidak menarik minat investor. Degradasi industri pergulaan nasional antara lain disebabkan produktivitas lahan tebu yang terus menyusut, penurunan efisiensi pabrik gula karena berusia tua, serta harga gula yang tidak stabil sehingga melemahkan semangat petani untuk menanam tebu.
Namun, mulai tahun 2003 industri dan perdagangan gula Indonesia kembali menggeliat dan memberikan angin segar. Produksi gula nasional mengalami peningkatan, yaitu dari 1,6 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2,25 juta ton pada tahun 2005 dan meningkat lagi menjadi 2,27 juta ton pada tahun 2006. Pada tahun 2008 lalu, produksi gula nasional dari 58 pabrik gula yang ada mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun sebelumnya menjadi 2,78 juta ton. Apabila digabung dengan produksi gula rafinasi yang berbahan baku impor, total produksi gula nasional di tahun 2008 menjadi 4,2 juta ton. Jumlah tersebut terdiri atas gula konsumsi sebanyak 2,7 juta ton dan gula rafinasi untuk industri makanan, minuman dan farmasi sebanyak 1,5 juta ton. Sementara total konsumsi gula nasional adalah sebanyak 3,5 juta ton yang terdiri atas konsumsi rumah tangga sebanyak 2 juta ton dan konsumsi industri 1,5 juta ton. Dengan demikian, di tahun 2008 tersebut Indonesia mulai surplus (swasembada) gula konsumsi rumah tangga (gula pasir) sekitar 700.000 ton.
Keberhasilan meningkatkan produksi gula tersebut dipicu oleh tekad pemerintah Indonesia dan para pemangku kepentingan di bidang agribisnis dan agroindustri gula untuk membangkitkan industri gula nasional sehingga mampu bersaing di tingkat internasional. Pemerintah melakukan program revitalisasi perkebunan tebu, revitalisasi pabrik gula, serta menarik para investor untuk membangun pabrik gula baru terutama di luar Pulau Jawa. Saat ini, di Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua tersedia potensi lahan untuk perkebunan tebu seluas 576.000 hektar. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI), dari luas potensi lahan tersebut seluas 284.500 hektar dinilai sesuai untuk pengembangan tanaman tebu dengan potensi produksi di atas 65 – 70 ton tebu per hektar.
Untuk lebih memacu produksi gula dalam negeri, pada tahun 2009 ini pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan impor gula. Untuk gula rafinasi (refined sugar), jika pada tahun 2007 Indonesia menetapkan kuota impor sebanyak 650.000 ton, maka di tahun 2009 kuota tersebut dipangkas sebesar 50% sehingga menjadi 325.000 ton saja. Kemudian untuk gula kasar (raw sugar), jika pada tahun 2007 jumlah kuota impornya sebesar 1,55 juta ton, maka tahun 2009 dipangkas sebesar 20% sehingga tinggal 1,2 juta ton. Pembatasan kuota impor tersebut diharapkan dapat memacu para petani tebu untuk meningkatkan produksinya dan pabrik gula rafinasi nasional dapat bekerja sama dengan para petani tebu dalam negeri.
Upaya peningkatan produksi gula nasional, selain bertujuan mencapai cita-cita pemerintah untuk swasembada gula, juga diharapkan Indonesia dapat meningkatkan ekspor gula sehingga mampu bersaing di tingkat internasional. Saat ini, ekspor gula Indonesia masih sangat rendah, bahkan kalah bersaing dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Pada tahun 2008 lalu, total ekspor gula Indonesia hanya sebesar 1.693 ton dengan nilai 905.000 dollar AS, padahal di tahun 2004 Indonesia sempat mengekspor gula hingga 10.370 ton dengan nilai 1.974 dollar AS. Di sisi lain, peluang ekspor gula Indonesia terbuka luas ke negara-negara di kawasan Asia Timur, negara-negara Arab, Afrika, bahkan ke Uni Eropa. Dengan demikian, peluang bisnis di sektor industri dan pemasaran gula Indonesia kembali terbuka lebar bagi para investor dan pengusaha lainnya.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai perkembangan industri dan pemasaran gula di Indonesia, PT Media Data Riset telah melakukan kajian/studi hingga bulan Mei 2009. Hasil studi tersebut kemudian disusun dalam bentuk buku laporan setebal lebih-kurang 250 halaman. Laporan studi ini ditawarkan kepada para investor serta pemangku kepentingan di sektor agribisnis dan agroindustri gula, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Buku studi konprehensif ini kami tawarkan seharga Rp 5.000.000 (Lima Juta Rupiah) per copy untuk versi bahasa Indonesia atau US$ 750 (Tujuh Ratus Lima Puluh US Dollar) per copy dalam versi bahasa Inggris. Peminat dapat menghubungi PT Media Data Riset, Jakarta, melalui Telepon (021) 809-3140, 809-6071, Fax: (021) 809-6071 atau Mobile : 085217061945 e-mail
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
/
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it